Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

BUMN Top 10 Laba Terbesar



Tidak ada wajah baru pada daftar 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar. Bersama "Klub 1 Triliun" dan 10 BUMN lainnya, mereka menjadi ujung tombak percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional.

Selama bulan April kemarin, susul menyusul BUMN melansir kinerja keuangan 2010 audited. Dari paparan tersebut, ibarat klasemen liga sepak bola profesional- komposisi tim yang menghuni jajaran 10 besar klasemen akhir sudah bisa dipastikan. Komposisi 10 BUMN pencetak laba terbesar, khususnya yang bertengger di papan atas, tidak banyak mengalami perubahan. Empat tim yang bercokol di sana sama persis seperti tahun lalu, yaitu PT Pertamina (Persero), PT Telkom Tbk, PT BRI Tbk, dan PT PLN (Persero). Perubahan hanya terjadi pada PLN dan BRI yang bertukar posisi. Tahun lalu PLN ada di urutan tiga, tahun ini posisinya digantikan oleh BRI yang tahun lalu di posisi keempat.

Semestinya, dengan tambahan margin penjualan listrik subsidi dari 5 persen menjadi 8 persen, laba bersih PT PLN tahun 2010 bisa melesat jauh melampaui tahun 2009. Namun meningkatnya beban bunga, berkurangnya untung dari selisih kurs, serta beban lain-lain menyebabkan laba bersih PLN tergerus hingga 2,5%. Jika tahun 2009 laba bersih yang dibukukan sebesar Rp 10,355 triliun, laba tahun 2010 mentok di angka 10,086 triliun.

Acungan jempol layak diberikan kepada Bank BRI Tbk. Kinerja keuangan bank tertua di Indonesia ini makin mencorong saja. Tahun 2010 ditutup dengan catatan laba bersih sebesar Rp 11,472 triliun, melesat hingga 56.9% dibanding pencapaian pada periode yang sama tahun lalu. Dengan capaian angka laba bersih sebesar itu, BRI telah memecahkan dua rekor sekaligus, yaitu bank dengan laba bersih terbesar dan satu-satunya bank di Indonesia yang membukukan laba bersih double digit.

Di "papan tengah" kejutan besar terjadi setelah Bank BNI Tbk melonjak ke urutan tujuh, atau naik tiga peringkat dari urutan paling buncit tahun lalu. Tahun 2009 BNI kembali masuk jajaran 10 Besar setelah membukukan angka laba bersih Rp 2,4 triliun. Dengan raupan laba sebesar itu, BNI bertengger di urutan paling buncit, atau nomor 10. Tahun 2010 laba bersih BNI melejit hingga 65% ke angka Rp 4,103 triliun sehingga berhasil menyodok ke urutan tujuh BUMN pencetak laba terbesar.

Dua jempol layak diacungkan untuk jajaran manajemen BNI di bawah Direkur Utama Gatot Suwondo. Lompatan yang amat signifikan itu tidak lepas dari keberhasilan manajemen bank ini mejalankan right issue pada 2010 dengan sukses, tanpa gejolak, dan menangguk hasil maksimal.

Posisi buncit yang semula ditempati BNI, digantikan oleh PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk. Dibanding tahun 2009, laba bersih tahun 2010 perusahaan ini turun hingga 26,4%. Akibatnya, jika tahun 2009 PT BA masih bisa duduk di posisi ke-8 pada daftar 10 BUMN pencetak laba terbesar dengan laba bersih Rp 2,7 triliun, maka dengan laba bersih sebesar Rp 2,009 triliun perusahaan ini harus puas ada di urutan ke-10. Selebihnya komposisi 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar masih dihuni oleh Bank Mandiri (urutan 5), PGN (6), Semen Gresik (8), dan Pusri Holding (9).

Kelompok 1 Triliun
Di luar BUMN Top 10, sejumlah BUMN mencatatkan kinerja yang tak kalah gemilang. Ambil contoh PT Timah Tbk. Perusahaan penambangan timah ini berhasil mencatat lonjakan laba bersih hingga 300 persen! Lonjakan harga logam timah di pasar global menyebabkan perseroan ini ketiban rejeki berlimpah.

Menutup tahun buku 2010, PT Timah menorehkan laba bersih mencapai Rp 947,9 miliar atau Rp188,3 per lembar saham. Jumlah ini jauh melampaui angka tahun 2009 sebesar Rp 313,8 miliar untuk laba bersih, atau Rp 62 per saham.

Lonjakan laba perseroan di sepanjang 2010 disebabkan oleh kenaikan penjualan komoditas akibat naiknya harga logam timah dunia, terutama pada tengah tahun kedua 2010. Pada pertengahan triwulan ketiga harga logam timah dunia merangkak naik pada kisaran US$ 22.000 per metrik ton, dari sebelumnya pada kisaran US$ 16.000 per metrik ton pada triwulan I dan II. Kondisi in berdampak pada kenaikan margin usaha perusahaan pada akhir kuartal keempat 2010.

Laba usaha lebih tinggi 90%, dari Rp 688,5 miliar tahun 2009 menjadi Rp 1.310,8 miliar di 2010. Laba sebelum pajak lebih tinggi 105% dibandingkan tahun 2009 sebesar Rp 549,2 miliar menjadi Rp 1.127,3 miliar pada 2010. PT Timah juga berhasil meningkatkan total aktiva sebesar 21% dari Rp 4.855,7 miliar menjadi Rp 5.881,1 miliar.

BUMN yang berkantor pusat di Kepualauan Bangka Belitung ini menghasilkan produksi logam timah sebesar 40.413 mton pada tahun 2010, atau 10% lebih rendah dibandingkan dengan produksi tahun 2009 sebesar 45.086 mton. Penurunan volume produksi disebabkan persediaan bijih yang ada memiliki konsekuensi penurunan volume terak (barang dalam proses) sebesar 25% dari sebelumnya 8.215 ton (2009) menjadi 6.197 ton (2010).

Namun begitu, total produksi bijih timah tahun 2010 sebesar 37.615 ton Sn, relatif sama dengan produksi bijih timah tahun 2009 yakni sebesar 37.701 ton Sn.

Direktur Utama PT Timah Tbk Wahid Usman optimis tren menggiurkan masih akan berlanjut hingga tahun ini. Ia sudah memprediksi adanya peningkatan konsumsi logam timah di 2011 sebesar 10% dari tingkat konsumsi pada tahun 2010 sebesar 330.000 ton. "Hal ini dilihat dari mulai pulihnya daya beli konsumen terutama terhadap produk-produk consumer goods dan elektronik. Dengan demikian diperkirakan produksi logam timah pada 2011 akan meningkat menjadi 345.000 ton, namun masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah permintaan pada tahun 2011 yaitu sekitar 370.000 ton," jelasnya.

Harga rata-rata logam timah tahun 2011 yang diterima perseroan diprediksi sekitar US$ 23.000 per ton.

Kinerja menggembirakan juga dipertontonkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Perusahaan yang melantai di bursa efek pada awal 2011 ini berhasil membukukan kenaikan laba bersih lebih dari 100% pada 2010. Tahun 2009 laba bersih yang dibukukan baru mencapai Rp 494,672 miliar. Tahun 2010 melonjak hingga ke angka Rp 1,062 triliun.

Pencapaian laba bersih tersebut didukung oleh penurunan beban pokok pendapatan dan beban bunga. Di sisi lain, pendapatan bersih perusahaan justru mengalami penurunan. Pada 2010, pendapatan bersih sebesar Rp 14,856 triliun, atau turun dibandingkan pada 2009 yang sebesar Rp 16,913 triliun.

Dengan pencapaian tersebut, PT Krakatau Steel kini bisa berbangga karena berhasil masuk ?Klub 1 Triliun?. Di luar 10 BUN Pencetak Laba Terbesar, BUMN yang berhasil membukukan laba bersih tahun 2010 di atas Rp 1 triliun berturut-turut adalah PT Askes (Persero) dengan laba bersih Rp 1,733 triliun, PT Antam Tbk (Rp 1,683 triliun), PT jamsostek (Rp 1,581 triliun), Perum Pegadaian (Rp 1,222 triliun), PT Krakatau Steel Tbk (Rp 1,062 triliun), dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dengan laba bersih Rp 1,012 triliun.

Ujung Tombak MP3EI
Kementerian BUMN telah menetapkan 26 BUMN sebagai ujung tombak implementasi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Nasional (MP3EI). Ke-26 BUMN tersebut adalah 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar, 6 BUMN ?Klub 1 Triliun?, dan 10 BUMN lain yang memiliki kinerja menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir.

Sepuluh BUMN tersebut berturut-turut adalah PT Timah Tbk dengan laba bersih 2010 Rp 947,9 miliar, PT Bank BTN Tbk (Rp 916 triliun), Perum Bulog (Rp861 miliar), PT Perkebunan Nusantara IV Persero (Rp 812 miliar), PT Taspen Persero (Rp 614 miliar), PT Garuda Indonesia Tbk (Rp 516 miliar), PT Kereta Api Indonesia (Rp 372 miliar), PT Wijaya Karya Tbk (Rp 285 miliar), PT Perusahaan Pengelola Aset Persero (Rp 243 miliar), dan PT Adhi Karya Tbk (Rp 189 miliar).

Ke-26 BUMN tersebut layak menjadi ujung tombak mensukseskan MP3EI karena merupakan 26 BUMN terbesar. Keseluruhan indikator kinerja 26 BUMN tersebut di tahun 2010 cukup merepresentasikan kinerja dan performa BUMN secara keseluruhan. Rinciannya:

? Total Pendapatan 26 BUMN Rp 1,021,095 triliun, setara dengan 90,4% total Pendapatan 142 BUMN sebesar Rp 1,129,015 triliun.
? Total Laba Bersih 26 BUMN Rp 91,511 triliun, setara dengan 92,9% total Laba Bersih 142 BUMN sebesar Rp 98,606 triliun.
? Total Aset 26 BUMN Rp 2,290,511 triliun, setara dengan 92,5% total Aset 142 BUMN sebesar Rp 2,476,055 triliun.
? Total Ekuitas 26 BUMN Rp 547,574 miliar, setara dengan 88,7% total Ekuitas 142 BUMN sebesar Rp 617,004 miliar.

Selama periode tahun 2006-2010, pertumbuhan rata-rata tahunan 26 BUMN terbesar relatif tinggi, yaitu pendapatan sebesar 10,04% dan laba bersih sebesar 17,80%. Disamping itu, per 31 Maret 2011, 14 BUMN Tbk dari 26 BUMN terbesar memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 812 triliun atau setara dengan 26% kapitalisasi pasar modal Indonesia.

Menurut Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, dengan besarnya kontribusi ke-26 BUMN dan lingkup operasional yang sangat strategis pada perekonomian Indonesia, pengembangan ke 26 BUMN tersebut akan menjadi katalisator utama dalam mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

sumber http://www.bumntrack.com


Untuk informasi menarik lainnya kunjungi INFO

Blog yang berisikan segala macam informasi seperti bisnis, investasi, kesehatan, musik, politik, olahraga, dsb. ARTIKEL SELANJUTNYA..... SILAHKAN BERKOMENTAR DITEMPAT YANG DISEDIAKAN, DAN JANGAN SPAM KAWANKU HEHEHE
Mau Berlangganan artikel dan tips bagus dari website ini?? Silahkan daftarkan email anda dibawah ini..

Enter your email address:

Delivered by Pay-pal-indonesia