Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

mahasiswa australia lulus tercepat 2 tahun di UGM

Yogyakarta (SIB)
Katrine Michelle Langford (24), mahasiswa asal Australia lulus tercepat menempuh studi dalam waktu 2 tahun 10 bulan di Universitas Gadjah Mada UGM). Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya itu, hari ini Rabu (15/8) ikut diwisuda bersama 1.753 mahasiswa lainnya di Gedung Graha Sabha Pramana (GSP) UGM.
Masa studi 2 tahun 10 bulan 1 hari ini merupakan rekor tercepat dalam sejarah kelulusan di UGM untuk jenjang Strata (S) 1. Rata-rata mahasiswa S-1 atau program sarjana menempuh masa studi di UGM selama 4 tahun 11 bulan.
Saat diwisuda bersama mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM itu, Katrine juga berhasil lulus dengan predikat cum laude dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,73. Dia juga merupakan mahasiswa asing pertama yang lulus tercepat.
“Ini merupakan sejarah baru setelah sekitar 40 tahun ada mahasiswa asing kuliah di UGM, baru pertama kali ada yang menjadi lulusan tercepat. Dan yang diambil jurusannya adalah Sastra Indonesia,” kata Rektor UGM, Prof Dr Ir Sudjarwadi, dalam sambutan acara wisuda di gedung Graha Sabha Pramana UGM di Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (15/8).
Seusai acara wisuda, Katrine yang dilahirkan di Marburg Australia 3 Maret 1983 kepada wartawan mengatakan dirinya kuliah di UGM karena kebetulan suaminya tinggal di Timor Leste. Dia sendiri juga sempat menjadi relawan di Timor Leste pada 2001. Pada tahun 2004 atas dukungan suaminya, dia mendaftarkan diri ke UGM untuk menempuh studi di jurusan Sastra Indonesia. Namun sebelum mendaftar di UGM, pada tahun 2003 terlebih dulu belajar Bahasa Indonesia.
Menurut dia kuliah bisa cepat karena setiap semester mengambil 24 SKS. Setiap ada semester pendek, dia selalu mengambil baik di jurusan maupun mata kuliah pilihan. “Hampir semua mata kuliah yang saya ambil lulus dan tidak ada yang mengulang,” katanya. Dia mengatakan kalau dirinya bisa cepat selesai karena serius belajar dan semua mahasiswa UGM bisa lulus dengan cepat. Tetapi dalam pandangannya, mahasiswa di Indonesia terkesan lebih santai dalam mengikuti kuliah. “Meski juga ada sebagian mahasiswa yang terlambat lulus karena alasan bekerja lebih dulu,” kata Katrine yang juga bisa nembang macapat itu.
Menurut dia, selama dua tahun 10 bulan belajar di Yogyakarta, dia merasa senang dengan suasana dan kebudayaan di Kota Yogyakarta ini. Selama berinteraksi dengan mahasiswa di UGM maupun teman-teman di kos, Katerine tidak mengalami hambatan. Mereka dengan senang hati membantu bila ada kesulitan.
Menurut dia, rencananya setelah ini akan melanjutkan studi S-2 di Australia untuk memperdalam ilmu bahasa atau linguistik. “Kalau sudah lulus S-2, mudah-mudahan bisa mendaftar dan diterima menjadi dosen di jurusan Sastra Indonesia,” kata dia. (detikcom/t)

Blog yang berisikan segala macam informasi seperti bisnis, investasi, kesehatan, musik, politik, olahraga, dsb. ARTIKEL SELANJUTNYA..... SILAHKAN BERKOMENTAR DITEMPAT YANG DISEDIAKAN, DAN JANGAN SPAM KAWANKU HEHEHE
Mau Berlangganan artikel dan tips bagus dari website ini?? Silahkan daftarkan email anda dibawah ini..

Enter your email address:

Delivered by Pay-pal-indonesia